Saya punya track record yang gak begitu bagus dengan bulan Desember. Patah hati dan kecewa itu udah satu paket untuk bulan ini di tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, saya memasuki bulan ini dengan perasaan bebas dan lepas. Tanpa sesak di antara sela-sela napas, tanpa lelaki yang paling takut untuk saya sakiti, tanpa memikirkan orang lain ketika saya bersama dengan lelaki yang jelas statusnya. Yes, I’m single, now!
Saya pikir saya bisa merasakan perasaan bebas dan lepas ini sampai akhir tahun. Ternyata, di akhir-akhir bulan ini saya malah kembali merasakan perasaan sesak di sela-sela napas. Kembali dipertemukan dengan lelaki yang selalu muncul di pikiran itu rasanya seperti membuka luka lama. Padahal kami tidak melakukan apa-apa. Dia tidak memberikan harapan-harapan kosong seperti sebelumnya, dan saya tidak mengharapkan apa-apa dari dia. Hanya saja dia selalu memberikan kerinduan yang khas.
Sama seperti seseorang di seberang pulau sana. Sesak di sela-sela napas ini juga karena saya rindu dia, kerinduan yang khas. Siapa yang bisa menggantikan posisi dia di sini? Bahkan orang yang pola pikir dan tingkah lakunya hampir sama dengan dia pun tidak bisa menggantikannya. Siapa yang bisa menanggapi konsultasi saya yang absurd? Siapa yang rela dipanggil dengan sebutan “ibu” walaupun dia tahu seharusnya dia dipanggil dengan sebutan “ayah”? Siapa yang mem-pukpuk saya ketika saya sedang patah hati? Kerinduan ini cuma datang untuk pribadinya. Bukan yang lain.
Kenapa saya harus menyadarinya sekarang? Ketika dia benar-benar tidak ada di sekitar saya, ketika saya dan dia benar-benar tidak bisa saling mengisi hari dan hati.
Atau,
Ini hanya perasaan milik saya seorang. Siapa tahu saya tidak menghadirkan kerinduan yang khas untuknya? Siapa tahu dia tidak merindukan saya sama sekali? Siapa tahu. Hanya dia yang tahu..
Wish you have the same feelings like me..
Cups~
M.

